Semua tulisan

Menemukan Ide Sederhana tapi Bermakna

Cerita di balik keberhasilan saya jadi finalis Apple Swift Student Challenge 2024 berkat percaya dengan ide sederhana yang dekat dengan budaya sendiri.

RARama Adi Nugraha·Swift·2024-04-15·6 min baca

Di artikel ini, saya pengen cerita sedikit tentang pengalaman saya waktu jadi finalis Apple Swift Student Challenge 2024. Ini kisah tentang gimana ide super simpel—yang muncul mendadak di menit-menit terakhir—bisa jadi proyek bermakna dan disukai sama juri. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian buat lebih berani berkarya, percaya sama insting sendiri, dan nggak ragu buat membagikan apa yang kalian sukai ke dunia luar.

Tentang Apple Swift Student Challenge

Apple Swift Student Challenge itu ajang tahunan buat pelajar di seluruh dunia buat nunjukin kreativitas, kemampuan coding, dan ketertarikan mereka sama bahasa pemrograman Swift. Peserta diminta buat bikin aplikasi interaktif di Swift Playgrounds—bisa berupa game sampai mini-lesson—yang bisa dicoba dalam waktu maksimal tiga menit. Kompetisi ini rasanya seru tapi bikin deg-degan banget: perpaduan pas antara kreativitas, dikejar deadline, dan kesempatan emas.

Gara-gara sempat kelewatan deadline di tahun 2023, saya bertekad bulat buat ikutan di tahun 2024. Nggak disangka-sangka, tekad inilah yang malah membawa saya masuk ke jajaran finalis!

Ketinggalan Deadline Tahun 2023

Jujur, awalnya kondisi saya nggak meyakinkan sama sekali. Di tahun 2023, kesibukan saya lagi padat-padatnya sampai akhirnya terpaksa merelakan deadline lewat begitu saja tanpa submit apa pun. Rasa kecewanya awet banget, makanya saya janji ke diri sendiri kalau tahun 2024 harus jadi momen buat balas dendam. Pokoknya harus submit sesuatu, apa pun itu.

Eh, tau-tau waktu sudah mepet tinggal 3 sampai 5 hari sebelum deadline, dan saya malah kembali ke posisi semula: belum punya ide apa-apa. Nol besar. Tiap kali nyari ide selalu mentok, dan saya mulai takut bakal ngecewain diri sendiri lagi. Ini benar-benar drama klasik antara kebiasaan menunda-nunda dan perfeksionisme, ditambah rasa panik karena harus bikin sesuatu yang bermakna sementara waktu terus berjalan.

Munculnya Inspirasi

Sampai akhirnya, saya dapat kilatan ide. Saya teringat ada sebuah library JavaScript open-source yang bisa mengubah huruf Latin ke Aksara Bali. Sebagai orang Bali asli, saya tahu betul rasanya kesulitan menulis Aksara Bali, apalagi ini materi wajib selama sekolah dulu. Jadi, melihat kalimat Latin bisa otomatis diterjemahkan dengan pas ke Aksara Bali terasa praktis sekaligus punya nilai budaya yang kuat.

Seketika saya mikir: kenapa nggak pakai ini saja buat Swift Student Challenge? Berhubung lisensinya bebas digunakan, saya bisa gabungkan ke Swift Playgrounds pakai JavaScriptCore. Saya tambahkan info singkat soal asal-usul aksara, cara nulisnya, sama fitur coret-coret buat latihan menulis. Aplikasinya memang nggak mewah, tapi simpel dan jalan dengan baik—pas buat nunjukin konsep utamanya ke juri dalam waktu singkat.

Walaupun waktu saya tinggal sedikit, untungnya semua bisa kelar tepat waktu. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya mirip keajaiban.

Mengirimkan "Learn Aksara Bali"

Waktu submit proyek 'Learn Aksara Bali', ekspektasi saya nggak tinggi-tinggi amat. Idenya sederhana banget dan lahir dari kepanikan menjelang deadline. Yang penting kirim dulu biar peluang menangnya nggak nol.

Saya bahkan sempat mikir, 'Ah, nggak bakal menang lah ini.' Tapi beberapa minggu kemudian, saya dapat email pengumuman: saya terpilih jadi finalis Swift Student Challenge 2024! Meskipun nggak dapat hadiah utama jalan-jalan ke WWDC, bisa masuk daftar finalis saja sudah bikin saya senang banget. Ini membuktikan kalau ide bagus itu nggak harus ribet; yang penting punya sentuhan personal dan tujuannya jelas.

Pelajaran yang Didapat

Sederhana Juga Bisa Berdampak

Pelajaran paling berharga buat saya adalah: ide keren itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari budaya kita sendiri. Awalnya saya sempat minder dan menganggap ide ini terlalu sederhana atau membosankan, tapi ternyata juri malah suka. Tahu kalau ide simpel bisa berdampak besar itu rasanya bikin lega banget.

Percayai Insting Kalian

Daripada pusing nyari konsep yang 'sempurna', saya belajar buat percaya sama insting dan ikuti apa yang memang saya sukai. Lagipula, mepetnya waktu memaksa saya buat fokus ke hal penting saja tanpa mikirin yang aneh-aneh. Perfeksionisme kadang malah bikin kita nggak maju-maju. Kadang cara terbaik adalah bikin sesederhana mungkin, rapihin yang bisa dirapihin, dan langsung submit sebelum kita mulai ragu sendiri.

Sedikit Tips buat yang Mau Ikutan

Cari Apa yang Kalian Sukai

Buat kalian yang berencana ikutan kompetisi ini atau sejenisnya, tips dari saya: cari topik yang benar-benar kalian sukai! Gali dari keseharian, budaya sekitar, atau pengalaman pribadi kalian sendiri buat dijadikan inspirasi. Jangan minder kalau idenya kelihatan kecil. Inovasi nggak melulu soal teknologi canggih kok, tapi soal gimana kalian membagikan ketertarikan kalian biar orang lain bisa ikut belajar.

Utamakan Idenya

Kalian nggak harus bikin aplikasi paling canggih sedunia buat bisa menang. Codingan mantap dan visual rapi memang nilai plus, tapi jantung dari submission kalian adalah ide dan cara kalian menceritakannya. Ide itu sifatnya personal. Cari konsep yang klop sama kalian, lalu fokus jelaskan itu dengan jelas dan penuh semangat. Bisa berupa aplikasi buat mempermudah hidup kalian, atau buat melestarikan budaya lokal yang penting bagi kalian. Jadilah diri sendiri dan tunjukin kalau kalian enjoy ngerjainnya!

Sederhana dan Apa Adanya

Ingat kalau sudut pandang dan pengalaman unik yang kalian miliki itu berharga banget. Jangan sepelekan kekuatan dari kesederhanaan dan ketulusan berbagi hal yang kalian sukai. Hadapi tantangannya, percaya sama diri sendiri, dan biarkan kreativitas mengalir begitu saja. Siapa tahu ide yang awalnya kelihatan sepele malah bisa jadi sesuatu yang luar biasa pas kalian kemas dengan menarik.

Penutup

Walaupun saya nggak dapat piala utama, predikat finalis ini menyadarkan saya kalau berani mencoba—meski mepet sekalipun—bisa membawa hasil yang di luar dugaan. Setahun lalu saya sempat nyesel karena kelewatan deadline, tapi sekarang saya malah bisa berbagi cerita sebagai finalis Swift Student Challenge.

Kalau ada satu hal yang bisa diambil dari cerita ini, itu adalah: jangan pernah sepelekan kekuatan ide sederhana yang punya makna mendalam buat kalian pribadi. Tetaplah penasaran, percaya sama diri sendiri, dan ingat kalau karya terbaik sering kali lahir dari inspirasi yang paling simpel.

Tertarik buat Ikutan?

Jadi gimana, ada rencana ikutan Swift Student Challenge tahun ini? Semoga saya bisa melihat karya-karya keren kalian di kompetisi nanti!